Sertifikasi Oracle Database SQL Fundamental 12c

Setelah sertifikasi Oracle Certified Associate Java SE, saya kembali lagi ke kantor dan ruangan yang sama untuk sertifikasi Oracle Database. Oracle database yang di ujikan versi 12c. Alasan saya mengikuti ujian sertifikasi masih sama dengan ketika OCA Java SE dahulu, yaitu syarat perusahaan (Alhamdulillah dibayari lagi hehe).

Hampir semua sertifikasi Oracle memiliki tingkatan / level, begitu juga dengan Oracle Database. Level awal adalah Oracle Database Associate yang terdiri dari dua ujian, pertama Fundamental, berikutnya administrator. Level menengah, yaitu Oracle Database Professional. Level Dewa ialah Oracle Database Master. Versi Oracle yang ditawarkan untuk ujian ada dua 11g dan 12c. Saya ambil yang 12c karena versi itulah yang dipakai oleh perusahaan tempat saya bekerja.

Sebagai tambahan informasi nih.

Oracle Database bisa dibilang database nomor satu di dunia dengan jumlah pengguna perusahaan lebih dari 305.000. Bahkan 97% perusahaan top dunia (global fortune company) menggunakan Oracle database. So, what do you waiting for? Pelajari sekarang juga, dan terbanglah ke seluruh penjuru dunia.

Untuk lulus ujian Oracle Certified Associate, setidaknya saya harus menguasai beberapa topik.

  1. Basic SQL
  2. Single Row Functions
  3. Group Row Functions
  4. Joins and Subqueries
  5. Manipulating Data
  6. Create Tables and Constraints

Read More »

Advertisements

Generasi di Hari Kemerdekaan

Hari kemerdekaan Indonesia sudah dilalui, 17 Agustus. Hari dimana rakyat Indonesia yang katanya meraih kemederkaan atas penjajahan kolonial Jepang. Saya ngak akan bahas sejarah disini karena saya bukan pakar sejarah Bangsa. Tahun ini Indonesia berumur 72 tahun sejak 1945 silam. Sebuah umur yang tidak muda lagi bagi sebuah negara untuk Maju.

Setiap tahun 17 Agustus menjadi salah satu hari setelah Idul Fitri (karena dapat duit) yang selalu di nanti oleh anak-anak. Pada hari ini berbagai acara perlombaan dilakukan demi mengingatkan akan perjuangan bangsa Indonesia. Lomba makan kerupuk selalu jadi pilihan utama panitia lomba 17 Agustusan. Seakan menjadi trademark bahwa makan kerupuk adalah sesembahan yang harus dituruti. Sebenarnya masih banyak lagi lomba-lomba dari jaman saya kecil dulu tetap dipilih sampai sekarang. Kita semua pasti tau lah ya lomba apa aja.

Tahun berganti dengan tahun. Estafet generasipun berganti. Saya ingat betul ketika dahulu saya menjadi peserta, yang awal partisipasi hanya sebagai pegembira, kemudian jadi juara terbanyak, dan sampai akhirnya tahun ini menjadi ketua panitia. Memori memunculkan kenangan bahwa saya pernah jatuh beberapa kali dalam perlombaan, kalah dan menang sampai mewakili RT untuk lomba di tingkat RW. Ketika kita kecil, ternyata semangat untuk berjuang selalu terpompa tanpa perlu dipompa. Namun, saat ini bagaimana? Ah pastinya pompa memakai nos. 

Proses pertukaran generasi yang telihat jelas di lingkungan terkecil masyarakat. Tradisi-tradisi luhur yang terus dipertahankan, bukan untuk sekadar memastikan bahwa lomba 17an tetap ada, melainkan mewariskan estafet perjuangan pendahulu. Tahun esok mungkin saya hanya menjadi penonton bagi adik-adik kita yang meneruskan. Ini contoh sederhana dari perubahan generasi, karena kita ngak selamanya muda dan ngak selamanya tua.

Hari ini kita menyaksikan bahwa pengkaderan tingkat kecil telah berjalan dengan baik, tinggallah pengkaderan tingkat atas yang seharusnya berjalan lebih baik.

 

A BREAKDOWN OF INDONESIAN STUDENTS’ FIRST WEEK IN RUSSIA

Note: this post already published in IndonesiaMengglobal platform. And also this post will be the last of my article series about Russian Scholarships. If you are new in here, just click this for the first article (Menjadi Tamu Pendidikan di Negeri Beruang Merah Bagian I) and the second Bagian II.

 

You’ve secured a spot in a Russian University, you’ve prepared all the necessary documents, and you finally step out of that airplane to breathe the cold Russian air. Your dream has finally come into fruition – and yet you might come to wonder: What should I do now? How do I get everything sorted to settle easily in this country? Read on to find out Ahmad Fajar’s breakdown of what your first week as an Indonesian student in Russia should look like to ensure a pleasant stay throughout the duration of your study.  

I still remember vividly my first days in Russia, this new person in town who has yet to understand the Russian language. And yet, at the time, I had to go to a Russian Hospital to handle a few documents. I remember only being able to speak one sentence which I deliberately remembered since before my departure to Russia: “Я не понимаю говорит по-русски” (I don’t understand and speak Russian). I said that sentence to the administrative officer, hoping she would reply in English which I could understand better. With a typical Russian demeanor, the old lady replied my greeting in Russian which I could not understand. Around me there were a few young locals. I asked them, “Can you speak English?” In response, they just shook their heads. I was frustrated, how could I communicate with this hospital officer when I could not speak Russian and she could not speak English? Luckily, I managed to find myself a solution: google voice translate. It was a valuable lesson for me. If you want to study in a non-English speaking country, it is best if you speak the local language (although this is not obligatory, of course) and you should have a strong mentality to deal with the frustrations of not being able to communicate easily with citizens who lack the ability to speak English.

A good preparation decreases the chance of you encountering problems here, especially in your first few weeks. One or two suitcases may not even be enough to fit all of our needs to survive in Russia! Preparing to study in Russia might be overwhelming, but having a good plan for your first seven days in this “Beruang Merah” can help ease your worries and ensure you a pleasant stay for the duration of your study. Here is what I envision as the ideal first week of Indonesian students in Russia:

Day 1: Arrival in Your Destination City

You might be excited to start sightseeing – soaking in the new sceneries, enjoying the novel cultures, and tasting all the new kinds of food Russia has to offer. But, the first thing you have to do before doing all of the aforementioned is to actually make sure that you have a room for for your first night or at least a place to securely store your baggage, and of course a place to stay throughout the duration of your study. You have to go to the commandant or Head of your Dormitory, and they will ask you for documents such as passport, immigration card which you received at the Airport (you must not lose this), and a few translated documents (diploma, transcript, medical certificate, etc.).

After confirming your arrival, I think it might be best for you to inform your family that you have arrived safely and let them know how things are going in Russia. For this, you need to buy a new SIM card. Russia has several telecommunication providers, namely Beeline and MTC. I myself use MTC (read: MTS). Russian providers have schemes which are different to Indonesia. For one, if you use the “Pra Bayar” system in Indonesia you cannot do anything like browsing or chatting if your balance is zero (0). Yet, in Russia, there is a loan system for telecommunications which means if your balance is zero (0) you can still use your phone for SMS or phone call but then your balance becomes minus (-xxx e.g. -240). In Russia, you have to go to the mall to obtain a SIM card. Do not expect to see warung pinggir jalan like ones you see in Indonesia.

Day 2: Hospital

If you have yet to formally register in the International Office, here is your chance to do so. Then, after that, you should got to the hospital. The the first thing you do is pay the insurance, approximately 6000RUB for a year. The health of your lungs, blood, urine, and feces will also be checked. It can take 2 days or more depending on your time management.

Day 3: Hospital – Immigration Office

The medical check-up could continue to your third day. You might want to go to the money changer if you have US Dollars in your pocket. Definitely do not change your Dollar at the airport as it more expensive than in the city. There is always an option of withdrawing money from your account in Indonesia at the ATM, but remember you will be charged around IDR 25.000. Even if you only want to view your account balance, a fee will still be imposed.

Day 4: Supermarket

I live in St. Petersburg, the second biggest city in Russia. It is only normal then that the living cost in here is more expensive than other cities, including for food. Eating at home saves me a lot of money, but that means I have to cook myself as I cannot ask anyone to cook for me. Only very rarely do I go to the Chinese restaurant and buy whatever is the cheapest on the menu. That is precisely why I regularly go to the supermarket to buy cooking ingredients for a week.

Read More »

Pengalaman Sertifikasi Oracle Certified Associate Java

OCA JAVASetelah melalui perjuangan yang cukup panjang, akhirnya saya berhasil juga mendapatkan sertifikat OCA (Oracle Java Associate). Congratulation for me! Proses pembelajaran yang dilalui dan screening sebelum test itulah yang bikin seneng ketika melihat hasil kelulusan. Well, saya akan sedikit cerita bagaimana saya meraih sertifikasi itu.

Sertifikasi Java ini sebenarnya ada tingkatannya, yaitu OCA, OCP (Oracle Certification Professional), dan OCM (Oracle Certification Master). Untuk lebih jelasnya, silahkan klik link ini. Dikarenakan saya belum punya sertifikasi java apapun, maka saya ambil OCA. OCA sendiri pun dibagi lagi jadi dua berdasarkan versi Java, ada yang Java SE 7 dan Java SE 8. Saya mengikuti Java SE 7 karena memang sebenarnya perbedaan antar versi di Java itu tidak terlalu signifikan.

Lantas, ngapain saya ambil sertifikasi Java ini? Mahal juga kan harga ujiannya sekitar 2,4 juta per sekali exam (04/08/2017). Perusahaan tempat saya bekerja mewajibkan karyawannya untuk punya sertifikasi Java dan Oracle Database. Jadi saya dibayarin untuk ujiannya, tapi jikalau gagal maka ujian kedua dan seterusnya menggunakan kocek pribadi. Harus serius nih dalam hati bilang. Kalau mau info detail tentang OCA JAva SE 7 Exam klik disini, informasi tentang sertifikasi oracle lainnya klik disini.

Untuk mendapatkan OCA, saya harus menguasai beberapa objectives :

  1. Java Basics
  2. Java Data Types
  3. Operators and Decision Constructs
  4. Creating and Using Arrays
  5. Using Loop Constructs
  6. Method and Encapsulation
  7. Inheritances
  8. Handling Exception

Read More »

Memasyarakatkan Masyarakat

Saya mau coba mulai tulisan seri opini. Karena masukin tulisan ke media massa khususnya koran di rubrik opini itu susah, jadi ya di blog aja yang gampang. Saya juga ngak terlalu memusingkan traffic ada yang baca atau tidak blog ini. Tapi semaksimal mungkin saya ngak asal berucap, hidup di dunia manapun termasuk dunia maya ada etikanya kan?

Opini kali ini saya mau singgung masalah kehidupan sosial masyarakat. Duh berat banget topiknya. Ini sebagai self reminder juga sih, karena tanpa disadari saya bisa menjadi seperti apa yang akan saya tuliskan. Selain itu, saya juga banyak terinspirasi dari blogger-blogger lain yang selalu saya nantikan setiap postingan terbarunya. Biar ikutan aktif menulisnya.

***

Saat ini saya tinggal di luar ibu kota, tapi masih termasuk kota juga. Saya tinggal di Cilegon, kota industri di ujung barat Pulau Jawa. Merantau. Masih termasuk baru disini, almost one month. Seperti ikan dari aquarium dipindahkan ke sungai di alam liar. Arus deras dan penuh dengan rintangan mengantri untuk di hadapi ikan itu. Analogi itu sepertinya cocok dengan saya, ketika saya berada di zona nyaman (Jakarta) saya dituntut untuk keluar dengan segera menuju zona lain.

Ngak akan pernah ada solusinya sih menurut saya penyakit generasi ini: anti social (ansos). Terutama  generasi millennials. Dulu ketika teknologi belum merajalela, saya ingat betul saya di dalam bis atau angkutan umum pasti selalu ngobrol, entah ngobrol apapun itu. Mulai dari hal sepele seperti mau pergi kemana? Dari mana?. The real fact sekarang adalah kalau ada orang yang nanya begituan ke kita, kita jadi rada curiga takut dijahatin. Walaupun kita ngak bisa generalisir semua orang seperti itu, kita masih dengan mudahnya nemuin orang yang bertegur sapa sekaligus bercanda ria di lingkungan sekitar. Termasuk lingkungan tempat tinggal saya sekarang.

Karena rumah saya jauh dari tempat kerja (3 jam perjalanan darat), jadi ngontraklah pilihannya. Lingkungan saya termasuk sepi. Walaupun terkadang ada dua keluarga ngobrolin hal apapun sampe tengah malem. Saya pernah ngobrol dari jam 8 sampe jam 12 malem. Ngobrolinnya beragam, tradisi nikah masing-masing suku adat Indonesia (Betawi, Batak, Jawa, Makassar, Minang, dll). Dari situ aja saya udah dapet informasi kalau mau nikahin cewe Batak itu harus siap modal gede. Makassar pun begitu.

Saya termasuk orang yang ga betah kalau diam diri dirumah sambal mainin hape atau laptop. Walaupun pekerjaan saya selalu bergelut di depan laptop, kalau ada perlu baru saya buka laptop dirumah jika tidak ya ngak saya buka. Banyak temen-temen saya yang selalu terkapar radiasi eletronik itu, ngeri ih cepet keriput mukanya hihihi. Menurut saya meskipun jaman dikelilingi teknologi canggih, jangan sampai teknologi menguasai kita.

Yang lebih mirisnya lagi kalau kita udah hidup ngak saling peduli satu sama lain (gue gue, lo lo). Tetangga rumah jatuh sakit atau ada masalah kita ngak tau, taunya ketika udah dalam masa krisis. Sekali lagi, saya bersyukur dilahirkan era-era 90an, ketika hape belum ada. Bisa ngerasain maen taplak gunung, benteng dan petak umpat. Bukan maen tekan dada (skip challenge) yang sempat tren yang hanya memperbodoh anak-anak muda jaman sekarang.

Well, generasi kini sudah berubah. Kita ga bisa menghakimi lingkungan seenaknya, kita perlu bareng-bareng wujudin lingkungan sekitar yang saling peduli, saling bertegur sapa, saling menyayangi (*ehh). Memasyarakatkan masyarakat sepertinya perlu, apalagi masyarakat yang lagi sakit model beginian.

 

Intermezo

Tak ada salahnya punya mimpi yang tertunda. Selama mimpi itu terus bersemayam dalam kalbu, ia tak akan terusir dengan mudahnya dari ingatan. Meskipun ada saat-saat sekejap ketika melihat atau membaca yang berhubungan dengan mimpi itu agak sedikit ‘ngiri’ dan bilang dalam hati ‘seharusnya gue disana’. Sepertinya kita akan bertemu dilain waktu. Meski hanya sekadar berkunjung ke teman-teman yang sempat dikenal.

Sekarang, saya mah berbenah diri dulu. Siapin amunisi terbaik. Buat melamar kamu. Iya kamu University of Oxford hahaha