Kuliah di Luar Negeri, Emang udah siap?

Pertanyaan itu harus ditanyakan pada diri sendiri sebelum memulai perjalanan teramat jauh. Kesiapan fisik, mental, finansial, wawasan, dan dokumen. Hampir bisa saya pastikan, almost 100% orang yang kuliah di luar negeri mempersiapkan kuliahnya dengan matang. Research mendalam tentang target, mulai dari biaya kuliah dan hidup, jenis makan, cuaca, atmosfir kampus, sampai dengan kondisi pertoiletan. Eitss, jangan anggap remeh tentang toilet, bagi kamu yang terbiasa dengan toilet ‘basah’, di luar negeri (developed country) sebagian besar menerapkan konsep toilet ‘kering’. Kamu nggak akan menemukan selang atau bak penampungan air, yang ditemukan hanyalah tissue dan tombol flush. Masih mau kuliah di luar negeri?

Terus apa yang harus kita siapkan untuk memulainya?

Saya nggak akan bahas detail banget. Sebenarnya tulisan ini lahir dari banyaknya email yang masuk ke saya menanyakan dokumen persyaratan: Motivation Letter, Research Proposal, dan Curriculum Vitae. Mereka meminta untuk mengirimkan karya saya untuk kemudian dijadikan referensi. Itu sah-sah saja. Namun, ada yang menarik dari hal ini.

Bagi kita yang terbiasa menulis baik itu karya tulis ilmiah ataupun bebas, akan ada dampak dalam menulis dokumen-dokumen tersebut. Kita tidak akan bingung untuk memilih diksi yang cocok untuk bagian ini itu. Lain halnya dengan kita yang lebih sering menulis status atau caption di sosial media yang sebagian besar bersifat opini semata. Jadi, mari kita biasakan menulis dahulu. Poin pertama yang harus disiapkan ialah kebiasaan menulis.

Saya tidak bisa menulis. Saya nggak ada ide untuk menulis. Saya malu tulisan saya tidak menarik, dll. Hilangkan dulu semua keraguan itu. Mulai aja dulu (tagline to*****ia hehe). Penghalang utama sebenernya itu diri kita sendiri. Kuliah di luar negeri itu bukan perkara pintar atau bodoh, tapi rajin atau malas. Kalau ia pintar tapi malas, ya nggak akan bisa kuliah di luar negeri, even though ia anak konglomerat sekalipun. Dan sebaliknya. Kalau kita rajin, Insya Allah ada jalan kok. Beasiswa itu banyak banget, tapi kita aja yang nggak tau atau mungkin nggak mau tau/cari tau.

Saya belum ada ide untuk penelitian apa nantinya, itu gimana?

Sebelum kamu memutuskan untuk kuliah di luar negeri sebaiknya kamu tentukan mau ngapain disana. Ini sangat penting. Untuk apa kita kuliah jauh-jauh kalau pulang ke Indonesia hanya menambah daftar saingan bagi lulusan dalam negeri dalam mencari pekerjaan? Untuk apa kita kuliah di luar negeri kalau kita nggak punya blue print yang jelas? Untuk apa kita kuliah di luar negeri kalau hanya untuk memuaskan konsumen instagram atau facebook saja? Untuk apa kita kuliah di luar negeri kalau cuma buat terlihat keren dan nggak mau ketinggalan tren? Please deh, nggak usah daftar kalau tujuannya itu. Ayo bareng-bareng kita renungin tujuan awal kita kuliah di luar negeri untuk apa, apalagi nargetin dapet beasiswa. Nah jika sudah matang, kamu bisa baca-baca penelitian di berbagai jurnal. Portal Garuda dari dikti sudah memudahkan sekali bagi kita yang mau baca scopus tapi kurang dana untuk langganan. Misal kita tertarik di isu teknologi informasi, ada penelitian yang menarik dan butuh penelitian lanjutan untuk menguatkan teori itu, maka kita bisa ambil bagian disitu. Atau membuat terobosan yang belum pernah ada. Itu poin kedua: blue print.

Sampai sini dulu ya. Kalau mau ada yang bisa kita diskusikan, silahkan komentar saja ya supaya yang lain bisa mengikuti juga.

The last but not least, saya lampirkan Motivation Letter dan Research Proposal saya ketika mendaftar Beasiswa Pemerintah Federasi Rusia kala itu. Jadi pertanyaannya, mau kuliah di luar negeri, emang udah siap?

Motivation Letter, Research Proposal Beasiswa

Semoga bermanfaat. Selamat berjuang.

 

 

Advertisements

Firefox vs Chrome, Mereka Dapat Uang Darimana?

Setelah postingan sebelumnya berbicara mengenai Firefox vs Chrome, Mana Yang Terbaik? Kali ini saya mau ngomongin gimana browser dapat uang.

firefox vs chrome

Firefox/Chrome atau web browser lainnya menyediakan kita browser secara gratis. Kita ngak perlu keluar uang untuk menggunakan layanannya. Padahal mereka memiliki karyawan yang tidak sedikit dan biaya operasional yang banyak. Lantas, bagaimana mereka tetap on the track untuk berlomba jadi yang terbaik dan terbanyak dipakai oleh netizen?.

Pertanyaan ini terlintas dibenak saya ketika saya menguji beberapa browser. Kini teknologi web dan internet sudah sangat maju dan terus bergerak. Dahulu browser hanya Internet Explorer atau Netscape, 2004 muncul Firefox, 2008 muncul Chrome, kini browser baru terus muncul untuk ikut merasakan manisnya kue browser.

Saya hanya mengambil dua browser besar sebagai contoh yaitu, Firefox (Mozilla Foundation) dan Google Chrome (Alphabet Inc). Fyi, alphabet Inc itu perusahaan induknya google, CEOnya tetap Larry Page.

Kita cek dulu laporan keuangan Mozilla Foundation tahun 2016. *dalam million (juta)

Totalnya 23,4 juta dollar US. Pendapatan tersebut diperoleh dari dua sumber: donasi dan royalti. Untuk donasi Mozilla memperoleh $13,8M, sedangkan royalti $8,3M. Seperti kita tau bersama bahwa mozilla adalah sebuah yayasan open source yang mengembangkan browser firefox dan turunannya. Ini baru mozilla foundation, kalau mozilla secara keseluruhan Mozilla Corporate totalnya $520M yang hampir 97% berasal dari royalti. Gokil.

Kita pakai produk mozilla Firefox gratis, gimana mereka dapat uang sebanyak itu?

Pada tahun 2016, mozilla menerapkan model bisnis kira-kira seperti ini

  1. Menawarkan kerjasama default search engine ke Yahoo di USA
  2. Menawarkan kerjasama default search engine ke Yandex di Rusia
  3. Menawarkan kerjasama default search engine ke Baidu di China

Sebelumnya kerjasama dengan google sebagai default search engine Mozilla Firefox di seluruh dunia. Namun, berhenti di 2016 walaupun bisa diubah oleh pengguna juga defaultnya. Jadi dapat uang melalui kerjasama default search engine. Mozilla juga dapat uang dari google atau mesin pencari lainnya menggunakan skema search query. Setiap pencarian yang dilakukan melalui firefox yang dihubungkan ke google akan dapat revenue. Hal ini juga bisa kita terapkan di blog untuk fitur pencarian “search by google”.

Selain model bisnis tersebut, jika kita klik new tab, ada semacam sponsored web. Mozilla pun mendulang uang dari itu juga.

Google Chrome.

Sama seperti Mozilla, Chrome mendapatkan uang dari iklan, tetapi daripada membayar royalti ke web browser lain, uang itu ditransfer ke Chrome yang notabene masih bagian dari Google. Sederhananya, Chrome menghasilkan uang dari menyimpan pengeluaran royalti Google.

Google juga punya cara menghasilkan uang secara tidak langsung. Biasanya, ketika pengguna menggunakan Chrome, mereka juga menggunakan layanan Google lainnya seperti gmail, Google Docs, Google Apps, dll yang pada akhirnya akan menguntungkan Google sendiri. Setiap kali produk Google digunakan, maka page views akan naik dan iklan pun semakin bertambah.

Pernah dengar Google Adsense? Produk yang akan memberikan kita (publisher) uang jika bersedia menampilkan iklan di halaman web/blog kita.

Google Adsense membutuhkan data user seperti aktivitas di internet. Google Chrome melacak data user dan menggunakannya untuk meningkatkan kinerja Google Adsense. Dengan begitu, Google Adsense akan semakin pintar dan efektif karena sudah tau karakteristik pengguna internet dan akan berdampak pada meningkatnya jumlah pengiklan di layanan Adsense.

Jadi kamu sudah tau kan setiap kita mengakses internet menggunakan browser, seketika itu pula Web Browser mendulang dolar.

Sumber gambar: maketecheasier.com

See you again, someday! ありがとう ございます!

When I heard about my Supervisor like, how he made the other workmates angry and didn’t like how he lead, I alarmed my self. It was about talking with time and behavior to adapt with his leadership style. For the other leaders that I had lead by them, now I cannot kill two bird in one stone. I had to keep my mental and thinks stronger than before. In the end of my time work in here, he switches to be ‘warmer’. I had a farewell treat by him!. How it can? How we change his style or maybe he changes based on his new team? Okay, I will tell you.

Kurang lebih 15 bulan saya bekerja bersama orang Jepang. Saya ditempatkan di suatu project yang melibatkan mereka, sebuah perusahaan tambang multinasional hasil joint venture antara Krakatau Steel dan Nippon Steel and Sumitomo Corporation, Japan. Selama saya bekerja disana, telah banyak mengubah How to think efficiently and effectively dan terutama dicipline & communication!. Sebelum saya bergabung, saya masih mengikuti kebiasaan kita yang membuat janji untuk bertemu di jam sekian, tetapi kenyataannya tidak sebanding dengan perjanjian. Namun, entah kenapa kini saya takut untuk terlambat dan merasa sangat malu jika terlambat. Selain itu, saya juga berterima kasih kepada para senior dan lingkungan saya dahulu semasa aktif di Organisasi kampus, tekanan mental datang dari berbagai penjuru. Sedikit banyak saya sudah terbiasa berada dibawah tekanan yang diatas rata-rata yang saya terima di pekerjaan.

Perjalanan saya dimulai dari tulisan berikut: Pencarian itu selesai.

I have arrived at this office as my second time, because the first time I only introduced by H.R manager to IT team before officially join in this remarkable peoples. In the first two months I had a preparation for Oracle Certified Associate (OCA) Java and Database. At that time, I was monitored by my Supervisor. I create a schedule in a day for study. I also did a dummy test each day and report. Huft…! If you interest to read my experience about OCA test, click here for JAVA and here for Database.

Kami memiliki java framework buatan sendiri. Jadi mengharuskan saya untuk belajar lagi melalui beberapa tugas yang diberikan. Ngak sulit sih, konsepnya sama dengan framework pada umumnya.  Semakin kesini, tugas semakin banyak dengan level kesulitan semakin meningkat. Stuck pernah? Sering haha Tapi jika stuck, saya biasanya mengalihkan pikiran ke yang bukan pekerjaan terlebih dahulu. Jika sudah tidak ada solusi lagi, barulah berdiskusi dengan supervisor. Tim saya berbeda perlakuan dengan tim yang lain, jika tim yang lain tidak mengharuskan untuk mengisi laporan harian (waktu dan aktivitas), saya harus mengisi itu sebelum pulang. Merepotkan haha

Saya dan teman setim sebisa mungkin kami selesaikan tugas yang diberikan tepat waktu dan sesuai dengan ekspektasi. Setiap bulan kami ada rapat bulanan yang membahas progress pekerjaan, mulai dari tugas yang sudah selesai, tugas yang terlambat selesai, sampai langkah perbaikan apa di bulan depan. Dan akan ada grafik nilai yang tercipta, apabila stagnan atau tidak ada peningkatan kinerja dalam lima bulan terakhir, siap-siap dapat surat peringatan.

Namun, hal itulah yang terkadang bisa jadi booster kami karena takut kalau nilai kinerja buruk. Saya terus coba mempertahankan dan meningkatkan performa. Akhirnya ngak bisa dihindari juga saya dapat Surat Peringatan pertama karena hal yang saya rasa memang harus saya lakukan. Ada user masuk ke ruangan IT, beliau konsultasi mengenai kliennya yang tidak bisa menggunakan sistem karena belum teregistrasi di database. Beliau tunggu disamping kursi saya, dan saya langsung melakukan sesuatu supaya klien dia bisa masuk ke sistem. Berhasil lah setelah saya registrasi di database.

Keesokan harinya, saya dipanggil oleh supervisor saya dan ditanya kenapa saya melakukan (registrasi) tanpa sepengetahuan dia atau supervisor lainnya. Oiya, di perusahaan kami, saya / Indonesian member tidak diperkenankan untuk masuk ke database tanpa izin dari atasan apapun itu alasannya. Salah saya karena tidak komunikasi dengan atasan. Sudah saya berikan alasan konkrit dan memang seharusnya dilakukan, tapi tidak ngaruh sedikitpun. Saya tetap menerima surat cinta itu hehe. As time goes by, I work more careful and don’t care if user directly request something to me. I will suggest him to request as procedure.

Saya mulai diskusi alot dengan supervisor membicarakan hal sepele. Ada satu momen dimana saya dan teman saya deploy (menerapkan perubahan ke sistem produksi) tapi tidak sempurna, masih ada hal yang harus diperbaiki (bukan dari kode tapi dari server). Perbaikan hanya bisa dilakukan di waktu yang user tidak banyak menggunakan sistem karena sistem akan dimatikan sementara. Dicarilah waktu yang cocok. Pada saat itu juga berhubungan dengan Hari Raya Idul Adha – otomatis libur tapi di Jepang tidak libur. Oleh karena itu, deploy ulang dilakukan oleh tim di Jepang. Setelah deploy berhasil, sistem harus dicek apakah ada kesalahan/sesuai ekspektasi. Karena saya libur, bagaimana saya bisa mengecek sistem yang harus pakai akses jaringan private kalau tidak terhubung ke jaringan itu?

Besoknya, ada email yang isinya bertanya kenapa saya tidak memonitor. Sudah saya jelaskan dan berakhir tanpa kejelasan setelah lebih dari 15 tektok jawab via email (karena doi ada di Jepang). Intinya apa? Komunikasi lagi. Japanese menganut budaya HORENSO, Lapor, Komunikasi, Diskusi. Yang secara otomatis saya juga menganut itu di kehidupan diluar pekerjaan.

At the end I work here, a day before he leave to Japan. He asked me about my free time after office. Ngapain nanya begituan dalam hati saya. Ternyata dia ngajak makan bareng setim di restoran manapun di kota Cilegon. Oke fine, kita habiskan uangnya hahaha. Ketika dalam makan, saya coba berusaha cairkan suasana karena kaku banget kalo di kantor. Kami saling bertanya tentang kehidupan pribadi seperti keluarga sampai kenapa orang Jepang pada betah banget kerja di satu perusahaan aja. Setelah selesai, keluar untuk saling berpamitan. Dan disitu terlihat betapa kakunya doi, ngajak saliman tapi kaku banget haha.

Wisuda.

Banyak yang saya pelajari dari budaya kerja orang Jepang. Bagaimana mereka begitu menghargai waktu sampai ke menit tingkat ketepatannya, cara berkomunikasi yang efektif, dan kerangka berpikir yang kritis serta detail oriented. Satu hal yang saya suka adalah cara mereka menerangkan suatu hal. Misal ada masalah di sistem, kita tidak hanya mencari solusi saja, tetapi harus tau dulu akar permasalahannya dimana.

Thank you. ありがとう ございます. Terima kasih.

japanese work culture

Firefox vs Chrome, Mana Yang Terbaik?

Pasti kamu sering mendengar kedua nama tersebut. Pastilah, kalau mau menjelajah internet harus menggunakan tool diatas. Kedua Web Browser diatas sudah sangat mainstream dikalangan netizen karena memang kedua Browser itulah yang memimpin klasemen Web Browser terbaik.

Mereka menyediakan fitur yang banyak dan membuat Web Browser tersebut dengan mudah kita custom sesuai dengan kebutuhan. Misalnya di Chrome, kita ngak perlu buka banyak tab hanya untuk mengaktifkan messenger web (Whatsapp Web, Telegram, Skype, Facebook Messenger, dan lainnya) cukup dengan install app extensions All in One Messenger. Namun, dengan segala kemudahan dan fiturnya, apakah Firefox dan Chrome menguras penggunaan memori komputer kita yang notabene bisa bikin lemot?

Kebetulan, saya baru install ulang laptop jadi sekalian aja review Web Browser mana yang cocok untuk kebutuhan saya dan sesuai kondisi laptop.

Spesifikasi Laptop saya:

  • Intel Core i5 – 8th gen
  • Memori 4GB
  • Masih pakai HDD
  • Windows 10 Original (hahaha)

Jadi harus install yang mana? Firefox atau Chrome?

Kalau menurut spesifikasi RAM 4GB, kedua browser tersebut dapat berjalan dengan baik. Namun, saya ngak mau sekadar ‘berjalan dengan baik’ tapi harus cepat dan ringan. Oleh karena itu, saya lakukan komparasi kedua browser tersebut dengan 4 sisi, yaitu kecepatan, kompatibel dengan javascript dan html5, konsumsi memori.

Read More »

Sebuah Lantunan Religius

Perjalanan yang kini menjadi salah satu bagian dari rutinitas. Ini menandakan hectic time dimulai kembali. Sudah lebih dari 10kali Cilegon – Jakarta – Cilegon ditemani irama musik jalanan. Seakan raga ini telah terbiasa duduk tiga jam di kursi formasi 3 – 2 atau 2 – 2.

Ada satu hal yang menarik perhatian saya diperjalanan kali ini. Terkait lagu religi yang acapkali di lantunkan musisi kali ini. Apa itu?

Bagi saya, nama Allah, Rasul, dan ucapan islami lainnya ada penggunaan yang istimewa, artinya tidak bisa sembarang tempat kita berucap. Penilaian saya memang sangat subjektif tanpa riset. Dengan penampilan “sangar” tatto di sekujur tubuh dan pola hidup sehari-hari sepenglihatan saya, rasanya lisan tak selaras dengan batin. Maafkan saya sekali lagi, ini hanyalah curahan apa yang saya lihat.

Nyanyian Allah, Allahu Akbar, dan lainnya mungkin hanya menjadi penghias atau bahkan penarik perhatian para penumpang mengingat ada faktor kesamaan keyakinan. Namun, ini lebih baik daripada musisi-musisi yang sengaja “memalsukan” dirinya sendiri sebagai musisi. Maksudnya? Yap, mungkin teman-teman pernah menemui musisi di dalam bis yang menyanyi pun tidak apalagi bersyair, menodongkan tangannya sambil berteriak konten-konten sedikit memaksa.

Kembali ke lagu religi.

Lagu-lagu bernuasa religi dijadikan subjek jualan. Berbekal lagu tersebut, musisi mendapatkan income yang katanya jika tidak dapat hari ini, esok tidak makan. Disisi lain, saya akui dengan kehadiran musisi jalanan di bis sedikit dapat membakar konsentrasi menunggu perjalanan. Sisi entertainnya dapat (bagi yang serius menghibur penumpang).

Lantas apa solusinya?
Saya rasa pemerintah perlu menyiapkan sebuah tempat khusus untuk para musisi ini perform. Bukan hanya satu tempat, melainkan beberapa tempat yang tersebar di pusat-pusat publik. Dan mengundang produser musik untuk menyaksikan karya mereka secara berkala. Publik pun terhibur, musisi jalanan punya tempat berkarya. Ngak lucu juga sih ya, namanya musisi jalanan ya aktivitasnya di jalanan. Kalau di panggung namanya musisi profesional hehe. Bagaimanapun juga, lagu yang dibawakan musisi jalanan harap disesuaikan dengan pola hidup sebenarnya. Walaupun kita ngak bisa menyamaratakan semua musisi jalanan seperti penilaian saya. Ada yang keren juga.

Masih di rute yang sama. Ada sepasang musisi jalanan yang selalu menarik perhatian ketika berjumpa. Bukan karena paras atau fisik, melainkan etika, penampilan dan kemampuan. Musisi ini menolak rokok jika diberikan penumpang. Lagu yang dinyanyikan pun tak pernah menyinggung religi, selalu cinta dan persahabatan. Semoga ada produser yang bertemu dengannya.

To sum up, semua manusia punya hak untuk mengagungkan nama Tuhan dan kekasih Tuhannya. Kita pun berhak menyuarakan pemikiran dan karya kita ke khalayak luas. Tak terkecuali lagu-lagu bernuasa religi yang dinyangikan musisi jalanan bergaya punk metal. Satu hal yang saya yakini, menyebut nama Allah tidak bisa sembarangan. Nama kita pun ingin disebut pada tempat dan waktu yang terhormat, bagaimana Tuhan? Kita berkomunikasi dengan atasan kerja punya adab yang sopan, begitu juga berinteraksi dengan Allah.

Saya terbuka atas segala opini baik kritik ataupun masukan. Silahkan berkomentar.
Di sebuah bus menuju rutinitas, 12112017.