Firefox vs Chrome, Mana Yang Terbaik?

Pasti kamu sering mendengar kedua nama tersebut. Pastilah, kalau mau menjelajah internet harus menggunakan tool diatas. Kedua Web Browser diatas sudah sangat mainstream dikalangan netizen karena memang kedua Browser itulah yang memimpin klasemen Web Browser terbaik.

Mereka menyediakan fitur yang banyak dan membuat Web Browser tersebut dengan mudah kita custom sesuai dengan kebutuhan. Misalnya di Chrome, kita ngak perlu buka banyak tab hanya untuk mengaktifkan messenger web (Whatsapp Web, Telegram, Skype, Facebook Messenger, dan lainnya) cukup dengan install app extensions All in One Messenger. Namun, dengan segala kemudahan dan fiturnya, apakah Firefox dan Chrome menguras penggunaan memori komputer kita yang notabene bisa bikin lemot?

Kebetulan, saya baru install ulang laptop jadi sekalian aja review Web Browser mana yang cocok untuk kebutuhan saya dan sesuai kondisi laptop.

Spesifikasi Laptop saya:

  • Intel Core i5 – 8th gen
  • Memori 4GB
  • Masih pakai HDD
  • Windows 10 Original (hahaha)

Jadi harus install yang mana? Firefox atau Chrome?

Kalau menurut spesifikasi RAM 4GB, kedua browser tersebut dapat berjalan dengan baik. Namun, saya ngak mau sekadar ‘berjalan dengan baik’ tapi harus cepat dan ringan. Oleh karena itu, saya lakukan komparasi kedua browser tersebut dengan 4 sisi, yaitu kecepatan, kompatibel dengan javascript dan html5, konsumsi memori.

Read More »

Advertisements

Sebuah Lantunan Religius

Perjalanan yang kini menjadi salah satu bagian dari rutinitas. Ini menandakan hectic time dimulai kembali. Sudah lebih dari 10kali Cilegon – Jakarta – Cilegon ditemani irama musik jalanan. Seakan raga ini telah terbiasa duduk tiga jam di kursi formasi 3 – 2 atau 2 – 2.

Ada satu hal yang menarik perhatian saya diperjalanan kali ini. Terkait lagu religi yang acapkali di lantunkan musisi kali ini. Apa itu?

Bagi saya, nama Allah, Rasul, dan ucapan islami lainnya ada penggunaan yang istimewa, artinya tidak bisa sembarang tempat kita berucap. Penilaian saya memang sangat subjektif tanpa riset. Dengan penampilan “sangar” tatto di sekujur tubuh dan pola hidup sehari-hari sepenglihatan saya, rasanya lisan tak selaras dengan batin. Maafkan saya sekali lagi, ini hanyalah curahan apa yang saya lihat.

Nyanyian Allah, Allahu Akbar, dan lainnya mungkin hanya menjadi penghias atau bahkan penarik perhatian para penumpang mengingat ada faktor kesamaan keyakinan. Namun, ini lebih baik daripada musisi-musisi yang sengaja “memalsukan” dirinya sendiri sebagai musisi. Maksudnya? Yap, mungkin teman-teman pernah menemui musisi di dalam bis yang menyanyi pun tidak apalagi bersyair, menodongkan tangannya sambil berteriak konten-konten sedikit memaksa.

Kembali ke lagu religi.

Lagu-lagu bernuasa religi dijadikan subjek jualan. Berbekal lagu tersebut, musisi mendapatkan income yang katanya jika tidak dapat hari ini, esok tidak makan. Disisi lain, saya akui dengan kehadiran musisi jalanan di bis sedikit dapat membakar konsentrasi menunggu perjalanan. Sisi entertainnya dapat (bagi yang serius menghibur penumpang).

Lantas apa solusinya?
Saya rasa pemerintah perlu menyiapkan sebuah tempat khusus untuk para musisi ini perform. Bukan hanya satu tempat, melainkan beberapa tempat yang tersebar di pusat-pusat publik. Dan mengundang produser musik untuk menyaksikan karya mereka secara berkala. Publik pun terhibur, musisi jalanan punya tempat berkarya. Ngak lucu juga sih ya, namanya musisi jalanan ya aktivitasnya di jalanan. Kalau di panggung namanya musisi profesional hehe. Bagaimanapun juga, lagu yang dibawakan musisi jalanan harap disesuaikan dengan pola hidup sebenarnya. Walaupun kita ngak bisa menyamaratakan semua musisi jalanan seperti penilaian saya. Ada yang keren juga.

Masih di rute yang sama. Ada sepasang musisi jalanan yang selalu menarik perhatian ketika berjumpa. Bukan karena paras atau fisik, melainkan etika, penampilan dan kemampuan. Musisi ini menolak rokok jika diberikan penumpang. Lagu yang dinyanyikan pun tak pernah menyinggung religi, selalu cinta dan persahabatan. Semoga ada produser yang bertemu dengannya.

To sum up, semua manusia punya hak untuk mengagungkan nama Tuhan dan kekasih Tuhannya. Kita pun berhak menyuarakan pemikiran dan karya kita ke khalayak luas. Tak terkecuali lagu-lagu bernuasa religi yang dinyangikan musisi jalanan bergaya punk metal. Satu hal yang saya yakini, menyebut nama Allah tidak bisa sembarangan. Nama kita pun ingin disebut pada tempat dan waktu yang terhormat, bagaimana Tuhan? Kita berkomunikasi dengan atasan kerja punya adab yang sopan, begitu juga berinteraksi dengan Allah.

Saya terbuka atas segala opini baik kritik ataupun masukan. Silahkan berkomentar.
Di sebuah bus menuju rutinitas, 12112017.

Sertifikasi Oracle Database SQL Fundamental 12c

Setelah sertifikasi Oracle Certified Associate Java SE, saya kembali lagi ke kantor dan ruangan yang sama untuk sertifikasi Oracle Database. Oracle database yang di ujikan versi 12c. Alasan saya mengikuti ujian sertifikasi masih sama dengan ketika OCA Java SE dahulu, yaitu syarat perusahaan (Alhamdulillah dibayari lagi hehe).

Hampir semua sertifikasi Oracle memiliki tingkatan / level, begitu juga dengan Oracle Database. Level awal adalah Oracle Database Associate yang terdiri dari dua ujian, pertama Fundamental, berikutnya administrator. Level menengah, yaitu Oracle Database Professional. Level Dewa ialah Oracle Database Master. Versi Oracle yang ditawarkan untuk ujian ada dua 11g dan 12c. Saya ambil yang 12c karena versi itulah yang dipakai oleh perusahaan tempat saya bekerja.

Sebagai tambahan informasi nih.

Oracle Database bisa dibilang database nomor satu di dunia dengan jumlah pengguna perusahaan lebih dari 305.000. Bahkan 97% perusahaan top dunia (global fortune company) menggunakan Oracle database. So, what do you waiting for? Pelajari sekarang juga, dan terbanglah ke seluruh penjuru dunia.

Untuk lulus ujian Oracle Certified Associate, setidaknya saya harus menguasai beberapa topik.

  1. Basic SQL
  2. Single Row Functions
  3. Group Row Functions
  4. Joins and Subqueries
  5. Manipulating Data
  6. Create Tables and Constraints

Read More »

Generasi di Hari Kemerdekaan

Hari kemerdekaan Indonesia sudah dilalui, 17 Agustus. Hari dimana rakyat Indonesia yang katanya meraih kemederkaan atas penjajahan kolonial Jepang. Saya ngak akan bahas sejarah disini karena saya bukan pakar sejarah Bangsa. Tahun ini Indonesia berumur 72 tahun sejak 1945 silam. Sebuah umur yang tidak muda lagi bagi sebuah negara untuk Maju.

Setiap tahun 17 Agustus menjadi salah satu hari setelah Idul Fitri (karena dapat duit) yang selalu di nanti oleh anak-anak. Pada hari ini berbagai acara perlombaan dilakukan demi mengingatkan akan perjuangan bangsa Indonesia. Lomba makan kerupuk selalu jadi pilihan utama panitia lomba 17 Agustusan. Seakan menjadi trademark bahwa makan kerupuk adalah sesembahan yang harus dituruti. Sebenarnya masih banyak lagi lomba-lomba dari jaman saya kecil dulu tetap dipilih sampai sekarang. Kita semua pasti tau lah ya lomba apa aja.

Tahun berganti dengan tahun. Estafet generasipun berganti. Saya ingat betul ketika dahulu saya menjadi peserta, yang awal partisipasi hanya sebagai pegembira, kemudian jadi juara terbanyak, dan sampai akhirnya tahun ini menjadi ketua panitia. Memori memunculkan kenangan bahwa saya pernah jatuh beberapa kali dalam perlombaan, kalah dan menang sampai mewakili RT untuk lomba di tingkat RW. Ketika kita kecil, ternyata semangat untuk berjuang selalu terpompa tanpa perlu dipompa. Namun, saat ini bagaimana? Ah pastinya pompa memakai nos. 

Proses pertukaran generasi yang telihat jelas di lingkungan terkecil masyarakat. Tradisi-tradisi luhur yang terus dipertahankan, bukan untuk sekadar memastikan bahwa lomba 17an tetap ada, melainkan mewariskan estafet perjuangan pendahulu. Tahun esok mungkin saya hanya menjadi penonton bagi adik-adik kita yang meneruskan. Ini contoh sederhana dari perubahan generasi, karena kita ngak selamanya muda dan ngak selamanya tua.

Hari ini kita menyaksikan bahwa pengkaderan tingkat kecil telah berjalan dengan baik, tinggallah pengkaderan tingkat atas yang seharusnya berjalan lebih baik.

 

A BREAKDOWN OF INDONESIAN STUDENTS’ FIRST WEEK IN RUSSIA

Note: this post already published in IndonesiaMengglobal platform. And also this post will be the last of my article series about Russian Scholarships. If you are new in here, just click this for the first article (Menjadi Tamu Pendidikan di Negeri Beruang Merah Bagian I) and the second Bagian II.

 

You’ve secured a spot in a Russian University, you’ve prepared all the necessary documents, and you finally step out of that airplane to breathe the cold Russian air. Your dream has finally come into fruition – and yet you might come to wonder: What should I do now? How do I get everything sorted to settle easily in this country? Read on to find out Ahmad Fajar’s breakdown of what your first week as an Indonesian student in Russia should look like to ensure a pleasant stay throughout the duration of your study.  

I still remember vividly my first days in Russia, this new person in town who has yet to understand the Russian language. And yet, at the time, I had to go to a Russian Hospital to handle a few documents. I remember only being able to speak one sentence which I deliberately remembered since before my departure to Russia: “Я не понимаю говорит по-русски” (I don’t understand and speak Russian). I said that sentence to the administrative officer, hoping she would reply in English which I could understand better. With a typical Russian demeanor, the old lady replied my greeting in Russian which I could not understand. Around me there were a few young locals. I asked them, “Can you speak English?” In response, they just shook their heads. I was frustrated, how could I communicate with this hospital officer when I could not speak Russian and she could not speak English? Luckily, I managed to find myself a solution: google voice translate. It was a valuable lesson for me. If you want to study in a non-English speaking country, it is best if you speak the local language (although this is not obligatory, of course) and you should have a strong mentality to deal with the frustrations of not being able to communicate easily with citizens who lack the ability to speak English.

A good preparation decreases the chance of you encountering problems here, especially in your first few weeks. One or two suitcases may not even be enough to fit all of our needs to survive in Russia! Preparing to study in Russia might be overwhelming, but having a good plan for your first seven days in this “Beruang Merah” can help ease your worries and ensure you a pleasant stay for the duration of your study. Here is what I envision as the ideal first week of Indonesian students in Russia:

Day 1: Arrival in Your Destination City

You might be excited to start sightseeing – soaking in the new sceneries, enjoying the novel cultures, and tasting all the new kinds of food Russia has to offer. But, the first thing you have to do before doing all of the aforementioned is to actually make sure that you have a room for for your first night or at least a place to securely store your baggage, and of course a place to stay throughout the duration of your study. You have to go to the commandant or Head of your Dormitory, and they will ask you for documents such as passport, immigration card which you received at the Airport (you must not lose this), and a few translated documents (diploma, transcript, medical certificate, etc.).

After confirming your arrival, I think it might be best for you to inform your family that you have arrived safely and let them know how things are going in Russia. For this, you need to buy a new SIM card. Russia has several telecommunication providers, namely Beeline and MTC. I myself use MTC (read: MTS). Russian providers have schemes which are different to Indonesia. For one, if you use the “Pra Bayar” system in Indonesia you cannot do anything like browsing or chatting if your balance is zero (0). Yet, in Russia, there is a loan system for telecommunications which means if your balance is zero (0) you can still use your phone for SMS or phone call but then your balance becomes minus (-xxx e.g. -240). In Russia, you have to go to the mall to obtain a SIM card. Do not expect to see warung pinggir jalan like ones you see in Indonesia.

Day 2: Hospital

If you have yet to formally register in the International Office, here is your chance to do so. Then, after that, you should got to the hospital. The the first thing you do is pay the insurance, approximately 6000RUB for a year. The health of your lungs, blood, urine, and feces will also be checked. It can take 2 days or more depending on your time management.

Day 3: Hospital – Immigration Office

The medical check-up could continue to your third day. You might want to go to the money changer if you have US Dollars in your pocket. Definitely do not change your Dollar at the airport as it more expensive than in the city. There is always an option of withdrawing money from your account in Indonesia at the ATM, but remember you will be charged around IDR 25.000. Even if you only want to view your account balance, a fee will still be imposed.

Day 4: Supermarket

I live in St. Petersburg, the second biggest city in Russia. It is only normal then that the living cost in here is more expensive than other cities, including for food. Eating at home saves me a lot of money, but that means I have to cook myself as I cannot ask anyone to cook for me. Only very rarely do I go to the Chinese restaurant and buy whatever is the cheapest on the menu. That is precisely why I regularly go to the supermarket to buy cooking ingredients for a week.

Read More »

Pengalaman Sertifikasi Oracle Certified Associate Java

OCA JAVASetelah melalui perjuangan yang cukup panjang, akhirnya saya berhasil juga mendapatkan sertifikat OCA (Oracle Java Associate). Congratulation for me! Proses pembelajaran yang dilalui dan screening sebelum test itulah yang bikin seneng ketika melihat hasil kelulusan. Well, saya akan sedikit cerita bagaimana saya meraih sertifikasi itu.

Sertifikasi Java ini sebenarnya ada tingkatannya, yaitu OCA, OCP (Oracle Certification Professional), dan OCM (Oracle Certification Master). Untuk lebih jelasnya, silahkan klik link ini. Dikarenakan saya belum punya sertifikasi java apapun, maka saya ambil OCA. OCA sendiri pun dibagi lagi jadi dua berdasarkan versi Java, ada yang Java SE 7 dan Java SE 8. Saya mengikuti Java SE 7 karena memang sebenarnya perbedaan antar versi di Java itu tidak terlalu signifikan.

Lantas, ngapain saya ambil sertifikasi Java ini? Mahal juga kan harga ujiannya sekitar 2,4 juta per sekali exam (04/08/2017). Perusahaan tempat saya bekerja mewajibkan karyawannya untuk punya sertifikasi Java dan Oracle Database. Jadi saya dibayarin untuk ujiannya, tapi jikalau gagal maka ujian kedua dan seterusnya menggunakan kocek pribadi. Harus serius nih dalam hati bilang. Kalau mau info detail tentang OCA JAva SE 7 Exam klik disini, informasi tentang sertifikasi oracle lainnya klik disini.

Untuk mendapatkan OCA, saya harus menguasai beberapa objectives :

  1. Java Basics
  2. Java Data Types
  3. Operators and Decision Constructs
  4. Creating and Using Arrays
  5. Using Loop Constructs
  6. Method and Encapsulation
  7. Inheritances
  8. Handling Exception

Read More »