Mahasiswa Dahulu, Kini dan Nanti

“Jika kau menghamba pada ketakutan,

kita memperpanjang barisan perbudakan”, Wiji Tukul.

 

Semboyan ‘Indonesia Belum Merdeka 100 Persen,’ pernah booming ketika Tan Malaka memobilisasi Persatuan Perjuangan. Saat ini, semboyan tersebut kembali terdengar lantang, baik sebagai retorika favorit para aktivis ketika berorasi maupun dekorasi perdebatan intelektual.

Sejarah menggoreskan tinta catatan perihal gejolak di masa itu. Masa dimana pergerakan mahasiswa bergelora dimana-mana. Secara umum, gerakan mahasiswa terbagi menjadi beberapa generasi, yaitu generasi orde lama, generasi orde baru, generasi reformasi dan generasi demokrasi serta generasi yang akan datang. Tiap generasi tersebut memiliki ciri khas masing-masing. Pada masa orde lama, 1966, gerakan mahasiswa yang semula mendukung kepemimpinan presiden Soekarno tapi menumbangkan beliau dengan berbagai factor salah satunya model demokrasi terpimpinnya.

Orde baru di tahun 1998, seperti diketahui bersama saat itu sedang dilanda kegelisahan, baik kegelisahan akan rezim Soeharto yang seakan “tak pernah menyerah” memimpin Indonesia selama 32 tahun dan krisis moneter yang bertransformasi menjadi krisis ekonomi.Puncaknya demonstran (mahasiswa, buruh dan rakyat sipil) menduduki gedung MPR DPR RI dan mendesak Presiden Soeharto untuk turun dari jabatannya. Tepatnya bulan mei 1998, Soeharto membacakan pidato kemundurannya. Namun, setelah itu banyak aktivis yang hilang dan dibunuh karena hal tersebut. Sebut saja Wiji Tukul yang sampai saat ini, tidak ada yang tau bagaimana keadaannya.

Gerakan mahasiswa yang menggebu-gebu pada dua generasi tersebut seakan kendur seiring berjalannya waktu. Aktivis yang terlibat atau sekedar mengetahui kasus 1998 memilih diam dan tak mau mengusut tuntas prahara yang menimpa rekan seperjuangannya. Apakah ini sebagai awal dari lunturnya kepemudaan dan gerakan mahasiswa?

Di era reformasi sampai kini, kebebasan berpendapat menuai kemerdekaannya. Gerakan aksi turun kejalan semakin bebas dan mudah untuk dilancarkan. Namun, gerakan pada era ini cenderung menurun dibanding era sebelumnya. Lebih soft dan lebih menggunakan hasrat intelektualitasnya. Gerakan mahasiswa tercermin sebagai gerakan intelektual. Memang seharusnya gerakan ini yang diusung melihat background mahasiswa adalah akademis.

Terdapat perbedaan yang sedikit mencolok Antara gerakan mahasiswa kini dan dahulu. Dahulu gerakan mahasiswa begitu didamba dan didukung berbagai kalangan termasuk rakyat. Ketika itu memang gerakan mahasiswa membawa aspirasi rakyat dan menjadi tumpuan distribusi aspirasi rakyat dibanding lainnya. Mahasiswa dan rakyat membaur bersatu padu menyerukan hal yang sama. Namun, kini gerakan mahasiswa menjadi sosok menakutkan tatkala melakukan aksi. Mengapa?

Gerakan mahasiswa kini banyak memilih jalan anarkis apabila aspirasi yang mereka bawa tidak tersampaikan secara baik. Mahasiswa dan petugas keamanan bagai air dan minyak. Oleh karena itu, rakyat enggan atau tidak begitu suka dengan pergerakan masa kini.

Selain itu, jika dilihat bersama saat ini, gerakan mahasiswa memilih diam melihat keadaan pemerintah. Apakah gerakan mahasiswa tetap menjadi oposisi abadi pemerintah? Atau sebaliknya berbelok menjadi koalisi?

Para paragraph pertama tulisan ini secara tersirat, semboyan tersebut mengartikulasikan bahwa Indonesia sejak Proklamasi Kemerdekaan (17 Agustus 1945), belum menjadi negara yang mutlak berdaulat dalam dua bidang krusial: ekonomi dan politik. Memakai pengandaian persentase, negara ini bisa dikatakan baru merdeka 50 persen, yakni dalam bidang politik pemerintahan. Namun, 50 persen kadar kemerdekaan sisanya, yakni dalam sektor perekonomian, belum mampu teraih. Dan bagaimana peranan gerakan mahasiswa era kini?

Berusaha menerawang gerakan mahasiswa yang akan datang adalah sesuatu yang sulit tetapi agak mudah untuk ditebak. Analisa saya, gerakan mahasiswa nanti lebih pro kepemerintah. Hal itu, dapat dibuktikan dengan keadaan yang tepat kita langsungkan, yaitu pemilihan umum baik legislatif ataupun eksekutif. Adakah sentilan mahasiswa terkait hal ini?

Memang benar yang dikatakan akademisi dan aktivis juga Anies Baswedan, “Orang jahat dinegeri ini banyak, tapi orang baik di negeri ini juga banyak. Namun, kebanyakan orang baik itu hanya bisa diam dan mendiamkan”.

Penentuan bagaimana gambaran atau pola gerakan mahasiswa mendatang tercipta dari pola saat ini. Walaupun gambar pola tersebut dihapus dan diganti pola baru, tetap akan tersisa gambaran pola sebelumnya karena tak mungkin terhapus sempurna kecuali ganti media gambarnya.

 

*Penulis beredar di twitterland dengan id @kovazzevic silahkan baca tulisan lainnya di https://fajarah.wordpress.com

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s