Rinduku

Duh aku yang terlupa akan hal itu

Tak mengerti bagaimana rasaku

Saat bersenda gurau denganmu

 
Rindu. Rindu yang selalu mencoba mengetuk pintu rindumu

Siapa tau dapat terjawab

Meski hanya singgah

Tak apalah asalkan terbalas

 
Kenyataan berbohong pada hati

Pura-pura saja tak mengapa

Padahal sebelalak dibuatnya

Tersedu sedan ulahnya

 
Menatap pada alir pena ini akhirnya

Kriuk suara kerupuk yang digigit

Klanson kendaraan umum tak mau kalah

Tetap saja suara rinduku yang paling kecang

 
Menjadi jaim itu susah. Apalagi gengsi !

Pasti sengsara kau dibuatnya

Tanpa diberitau, perasaan sudah tau.

Bahwa kau merindukannya.

Rindu gigi putih bersinar, alis yang berkelok, hidung menyelinap, bibir gulum.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s