Kisah tak Terlupakan: Perjalanan Jakarta – Saint Petersburg

Aku tak memiliki kata mutiara untuk memulai tulisan ini karena menurutku kamulah kata mutiara yang digambarkan itu.

Perjalanan jauh dan melelahkan tapi mengesankan pun akhirnya dimulai. Jakarta, Indonesia menuju Saint Petersburg, Rusia dengan jarak 9858.33 KM harus saya tempuh selama 3 hari perjalanan udara dan darat. Perjalanan udara Jakarta – Malaysia – Ho Chi Minh City – Moscow dilajutkan Moscow – Saint Petersburg dengan kereta api. Pasti capek, bacanya emang jauh banget tapi kalau dilakuin seru banget !. You have to try this long journey if you want hehe.

Saya menantikan perjalanan ini sudah sedari bulan Agustus ketika pengumuman beasiswa Rusia rilis. Setelah menunggu keputusan final kampus dan invitation visa, saya bias memastikan untuk membeli tiket pesawat. Angkatan 19 adalah jumlah terbanyak penerima beasiswa Rusia untuk Indonesia, sekitar 98 orang pada 2016. Penerima beasiswa tersebut terbagi dengan Kalimantan Timur dan mahasiswa yang sudah belajar lebih dahulu di Rusia, serta kuota dari Pusat Kebudayaan Rusia (PKR), Jakarta. Saya masuk dalam kuota PKR.

Ketika itu acara pembekalan penerima beasiswa diadakan, kami berkumpul untuk merumuskan segala kebutuhan mulai dari legalisir dokumen dan tiket pesawat. Pada titik akhir diputuskan menggunakan jasa Student Travel Agent untuk membeli tiket pesawat. Namun, saya melawan arus haha. Berpergian seorang diri sepertinya seru, apalagithe first time I will fly for long trip, it will great experience, I guess. Padahal mah karena budget (lol haha), saya mencari penerbangan paling murah ! karena flight cost tidak termasuk komponen beasiswa. Alhamdulillah saya dapat beberapa opsi penerbangan murah; Vietnam airlines (VN), China Southern airlines (CZ), Etihad airways (EY) dan S7 airlines (S7). Saya kerucutkan menjadi 2 opsi, yaitu VN dan CZ. Setelah memperhitungkan saya putuskan Vietnam Airlines dengan rute Malaysia – Ho Chi Minh City – Moscow akan dengan konsekuensi saya mencari penerbangan dari Jakarta – Malaysia. Rute Jakarta – Malaysia berdasarkan pengalaman saya pakai jasa Malindo Air yang masih satu grup dengan Lion air. Cukup murah sekitar 400 ribu – 500 ribu (saya lupa). Total biaya untuk keseluruhan rute Jakarta (CGK) – Moscow (DME) sekitar Rp 4.200.000. It was the cheapest flight to Moscow, teman lainnya yang menggunakan Student Travel Agent harganya sekitar Rp 6.800.000 dengan Etihad Airways. Karena saya dapat pilihan penerbangan yang lebih murah, secara sembunyi saya tawarkan kepada teman-teman lainnya dengan satu tujuan, Saint Petersburg. Hasilnya saya ditemani 3 orang lainnya.

Saya ingat orang pertama yang satu pemikiran dengan saya adalah Kaka Nisya. She was one of  strong woman who I ever met.Kaka Nisya diterima kuliah S3 jurusan Electro Engineering di ITMO University. Penguasaan bahasa Rusianya luar biasa, dialeknya enak didengar. Tidak heran sih, doi kuliah S2 di Volgograd 3 tahun. Kemudian, tim kami bertambah dengan kehadiran orang yang ngaku dari Makassar tapi lebih mirip Vietnamese. Fauzan Azima namanya, anak pesantren yang lanjut SMA-nya di Insan Cendikia Madani Tanggerang. Juara stand-up comedy doi tapi ngak lolos lomba Tenis Meja O2SN. Selanjutnya, Dina tapi saya kurang tau lebih jauh tentang doi. Dina sendiri yang berbeda tujuan dengan kami, Dina diterima di Higher School of Economic Moscow.

Empat orang kami berangkat dari Malaysia ke Moscow. Sehari sebelumnya, rumah saya ramai ngak seperti biasanya. Itu mungkin dikarenakan flight menuju Kuala Lumpur jam enam pagi, jadi harus dini hari berangkat ke Bandara Soetta. Dua mobil mengantar untuk berpisah sejenak huhuhu. Momen inilah pertama kalinya dalam keluarga besar saya, sebelumnya sudah ada yang ke luar negeri, tetapi tidak terlalu lama. Perasaan kali itu tak beraturan, antara sedih dan senang akan melangkah sedikit lebih maju. Sedih, membayangkan saya yang terbiasa hidup dengan kasih saying keluarga kini harus berperang melawan diri sendiri. Senang, karena inilah yang telah dinantikan sejak lama.

Pukul 04.00 secara resmi perpisahan itu berlangsung. Saya jadi teringat syair Jalaludin Rumi yang berjudul “keterpisahan ini”.

 Adakah yang tahu apa yang dimaksudkan Tuhan ketika menciptakan senja?

Kita menantinya, menikmati pesonanya, tapi pada akhirnya kita selalu terperangkap oleh gelap yang mengikutinya.

Aku tak pernah tau pasti apa yang dipikirkan Tuhan ketika menciptakan senja. Satu hal yang aku tau, darinya aku belajar bahwa perpisahan – sedramatis apapun ia berlangsung – tak selamanya getir. Kadang ia berjalan begitu manis. Tapi perpisahan, semanis apapun ia berlangsung, selapang apapun hati kita menerimanya, tetap saja menyisakan kehampaan.

 Oke skip.

Jakarta – Malaysia saya berangkat dengan Fauzan, kami ketemuan di Bandara. Sekitar pukul 9.20 waktu setempat kami landingdi Kuala Lumpur International Airport, sebuah bandara yang dikelilingi hutan kelapa sawit. Setelah melewati garbarata, kami berdua langsung bingung. Where should we go to claim our baggage? Ngak lucu kan kalau bagasinya ketinggalan di Jakarta. Menurut kami, petunjuk arah di bandara sulit untuk dimengerti oleh orang yang baru pertama kali ke bandara itu. Kami berusaha mengikuti arahan papan petunjuk, tapi gagal, ngak ketemu brat !. Inisiatif, saya bertanya dengan orang lain, hasilnya gagal ketemu lagi. Dan akhirnya kami bertemu petugas bandara (susah nemu petugasnya dan bandaranya masih sepi banget), seketika diarahkan rute baggage claim yang benar. Kamu tau? Hanya bagasi kami yang belum diambil. Alhamdulillah.

Setelah itu, opsi pertama saya titipkan bagasi ke storage, harganya mahal Rp 400 ribu lebih, mahal ternyata. Ga jadi deh. Sebelum terbang ke KUL, saya sudah menghubungi rekan yang tinggal di KUL untuk sejenak berkeliling di Kuala Lumpur Central. Namun, bagasi kami cukup banyak ngak jadi deh keliling melihat Menara Petronas ckck. Pilihan terbaik kala itu adalah Airport tour, kelilinglah kami berdua di Airport dari lantai dasar ke lantai lima termasuk ke kantor airline yang terpelosok itu (niatnya mau nitip bagasi di kantor Vietnam airlines). Secara umum, Kuala Lumpur International Airport bagus. Fasilitas hanya kurang di water dispenser yang susah ditemui, selebihnya cakep apalagi monorail penghubung terminal 1 dan 2.

Pukul 20.00 kami take off ke Ho Chi Minh City, Vietnam. Ett ngak mulus aja bisa berangkat. Di counter check in, kami agak sedikit direpotkan dengan petugas dengan logat melayu kental. Niat awal bagasi kami mau disatukan hitungan kilogramnya, ternyata ngak bisa. Kami bersikekeh untuk bisa, dan mba-mba nya bilang “bise saja, kalau satu orang tak berangkat, semua orang juga tak berangkat !”. Yaudah daripada diliatin terus sama penumpang lainnya, kami bongkar bagasi di depan mbanya, pindahin sedikit barang-barang kaka Nisya ke koper saya dan Fauzan. Kelar urusan, take off.

Malaysia – Vietnam ngak terlalu lama, sekitar 55 menit saja. Kami landing dengan selamat di bandara yang ngak lebih bagus dari Bandara Juanda Surabaya. Bandaranya ngak terlalu besar, arsitekturnya juga biasa saja. Sesuai rencana, kami hendak keluar bandara untuk menginap di hotel. Masalah selanjutnya adalah pakai apa ke hotel? Uber dan Grab tersedia di negara ini, tapi kami ga ngerti Bahasa Vietnam. Alhasil, taksi sebagai satu-satunya moda transportasi yang ada.

Para supir taksi ngak ada yang ngerti Bahasa inggris sama sekali. Itu membuat kami kesulitan dalam komunikasi. Saya coba tunjukkan nama hotel dan alamatnya, pak supir mengerti. Masuk lah kami ke dalam taksi. Keanehan sudah mulai terlihat begitu loket keluar kendaraan dari bandara. Kami harus memberikan supir 200.000 Vietnam Dong ! gilaa, keluar bandara aja harus bayar Rp 100.000. Agak sedikit bingung dan gelisah si supir.

Saya duduk di bangku depan sambal megang catatan alamat hotel. Saya mencoba bertanya iseng, argometer di mobil itu menunjukan angka 7.xxxxxx yang saya kira adalah 7 VND tapi menurut supir adalah 7xx.xxxx VND gilaa baru beberapa meter mahal banget harganya. Dari kejauhan kami melihat hotel Hanoi. Kami minta si supir untuk menepi. Nagih ongkos dong, saya kasih 200.000 VND lagi, dia minta sesuai “meta, meta, meta, meta” (sambal nunjukin argometernya ahaha kocak). Dina keluar terlebih dahulu dengan alasan mengambil uang sisanya, Dina pinter disini, dia coba minta tolong orang Vietnam setempat yang bisa Bahasa inggris untuk ngomong sama supir.

Dina keliling, saya coba komunikasi dibantu Bahasa tubuh seadanya. Saya katakan, kami tidak mau bayar, itu terlalu tinggi harganya. Mungkin dia sadar, kalau penumpangnya udah sadar telah ditipu dan dalam hati dia bilang “alhamdulillah, gue udah dapet banyak malam ini dari turis polos”. Kami semua keluar mobil dan ambil bagasi, si supir bilang kalau dia akan balik lagi ke hotel Hanoi untuk menagih sisa ongkosnya. Saya bilang silahkan aja, gue tungguin lo haha

Kami bergegas ke hotel Hanoi tersebut. Recepsionisnya masih muda dan senasib dengan kami yaitu mahasiswi. Namanya chit. Kami cerita mengenai taksi tadi, chit bilang itu mahal banget, seharusnya ngak segitu. Yaudahlah jadi pelajaran bagi kami untuk kedapannya. Kami cek kamar dan harga. Harganya sekitar 500.000 VND untuk 4 orang. Uang kami saat itu tinggal sekitar 200.000 VND lagi, ga jadi deh ngineb di hotel dan akhirnya kami kembali ke bandara menggunakan grab dibantu oleh chit. Oiya, chit dan kami berkomunikasi pakai google translate di laptop macbook pro nya chit hahaha

Keunikan dari Vietnam belum berakhir sampai di taksi aja. Setibanya kami di bandara, kami mau istirahat di dalam bandara. Kami antri di check in counter. Saya dan dina yang pertama. Dina di tanya-tanya oleh petugas counter, sedangkan saya tidak sama sekali. Diam membisu. Saya lolos dari counter dan menunggu di dalam bandara. Petugas counternya Dina bilang ke petugas counter saya tadi, mungkin bahasanya begini “eh kok elu lolosin sih itu Indonesia? Dia itu terbangnya besok pagi. Buruan sono elu panggil lagi orangnya, terus elu lapor ke pimpinan.” Petugas saya langsung tepok jidat sambil bilang “matii gue” (percakapan ini benar, hanya beda Bahasa aja). Kemudian, saya dipanggil dan di tutuplah counter dia. Saya dibawa menuju kantor pimpinan mereka. Saya sedikit di interogasi, kemudian paspor saya yang sudah di cap imigrasi, dicancelled. Mendengar mereka ngomong itu lucu banget. Gaya bicara mereka cepat banget.

Kami tidur di luar lounge, tetapi masih kawasan dalam bandara. Kemudian Dina bertanya ke petugas lainnya, “where is prayer room?”. Oh my god, petugas bandara international tidak ada yang mengerti bahasa Inggris. Setelah Bahasa isyarat digunakan dengan metode seakan memegang dupa ditangan, akhirnya mereka jawab dengan menggerakan kedua tangan yang artinya tidak ada. Kami memutuskan untuk tidur di bangku-bangku panjang yang tersedia. Lumayan bisa selonjoran walaupun jadi pusat perhatian.

Pukul 8.00 kami dapat check in sesuai arahan petugas koplak semalam. Kami menunggu di lounge terminal menuju Moscow. Pada kesempatan menunggu itu, seorang professor dari salah satu universitas di Moscow berkomunikasi dengan saya. Awalnya saya pakai Bahasa Inggris, tapi saya amati beliau kesulitan dengan English. Saya ajak kaka Nisya berdiskusi, lancar deh mereka ngobrol dengan obrolan yang sama sekali saya ngak ngerti.

Hemat cerita, kami tiba di Moscow ! Ketika diberi tau kaka Nisya dari dalam pesawat landscape kota sudah terlihat, jantung berdebar lebih kencang. Akhirnya sampai Rusia juga. Total 2 hari sudah perjalanan udara. Hal yang paling mendebarkan dari keluar – masuknya Rusia adalah pada saat di imigrasi check. Lembar demi lembar paspor saya di cek, di scan dan di pelototi wajah saya. Sekitar 20 menit proses tersebut. Sembari menunggu teman lainnya, saya ke toilet sekalian pakai long john. Toilet tanpa air hahaha.

Saya, Fauzan dan kaka Nisya melanjutkan perjalanan dengan kereta api ke Saint Petersburg, sedangkan Dina langsung menuju dormitory kampus. Sebelum berangkat, saya sempatkan berkunjung ke Red Square dekat Kremlin yang terkenal itu. Suhu udara saya lihat di HP mencapai 0 celcius, dingin banget asli. Kaka Nisya dan temannya Mas Elgi bilang ini buat nyesuain diri dulu. Menjelang pukul 01.00 kami kembali ke Stasiun. Kereta api tidur dengan satu ruang berisi enam tempat tidur agak aneh bagi orang yang pertama kali. Delapan jam perjalanan pun tidak begitu terasa karena kami tidur ketika di luar mulai turun salju.

Sekitar pukul 09.00 kami tiba di Stasiun Saint Petersburg yang begitu besarnya. Stasiun tersebut terintegrasi dengan terminal bus dan metro, sejenis kereta bawah tanah. Saya lanjutkan dengan metro menuju dormitory. Alhamdulillah sampai dengan selamat di kamar teman dan langsung bergegas mengurus administrasi di kampus Peter the Great Saint Petersburg Polytechnic University.

Terima kasih banyak bagi kamu yang telah membaca tulisan panjang ini sampai usai hehe. Yuk kuliah di luar negeri. Ayo kuliah di Rusia.

Red Square – Kremlin, Moscow
Kaka Nisya minum teh di pesawat
Saat check in di KLIA menuju Vietnam
Narsis sebentar di kampus
Langsung sarapan di kantin kampus
Bersama Vietnamese, Chit.
Advertisements

6 thoughts on “Kisah tak Terlupakan: Perjalanan Jakarta – Saint Petersburg

  1. Jar…. Jujur stlah baca semua nya.. ga kata lain selain kata IRI..
    Sesuatu yg bisa menghilangkan Rasa IRI itu bila Kamu Dg Suka Rela Publiching Lagu Dangdut “”Yang Apalah-Apalah” itu Zar di Rusia… Kali aza dg begitu akan Terkenal di Indonesia stlah Terkenal di Negara Besar Lainnya.. Bisakah Zar??…

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s