Memasyarakatkan Masyarakat

Saya mau coba mulai tulisan seri opini. Karena masukin tulisan ke media massa khususnya koran di rubrik opini itu susah, jadi ya di blog aja yang gampang. Saya juga ngak terlalu memusingkan traffic ada yang baca atau tidak blog ini. Tapi semaksimal mungkin saya ngak asal berucap, hidup di dunia manapun termasuk dunia maya ada etikanya kan?

Opini kali ini saya mau singgung masalah kehidupan sosial masyarakat. Duh berat banget topiknya. Ini sebagai self reminder juga sih, karena tanpa disadari saya bisa menjadi seperti apa yang akan saya tuliskan. Selain itu, saya juga banyak terinspirasi dari blogger-blogger lain yang selalu saya nantikan setiap postingan terbarunya. Biar ikutan aktif menulisnya.

***

Saat ini saya tinggal di luar ibu kota, tapi masih termasuk kota juga. Saya tinggal di Cilegon, kota industri di ujung barat Pulau Jawa. Merantau. Masih termasuk baru disini, almost one month. Seperti ikan dari aquarium dipindahkan ke sungai di alam liar. Arus deras dan penuh dengan rintangan mengantri untuk di hadapi ikan itu. Analogi itu sepertinya cocok dengan saya, ketika saya berada di zona nyaman (Jakarta) saya dituntut untuk keluar dengan segera menuju zona lain.

Ngak akan pernah ada solusinya sih menurut saya penyakit generasi ini: anti social (ansos). Terutama ย generasi millennials. Dulu ketika teknologi belum merajalela, saya ingat betul saya di dalam bis atau angkutan umum pasti selalu ngobrol, entah ngobrol apapun itu. Mulai dari hal sepele seperti mau pergi kemana? Dari mana?. The real fact sekarang adalah kalau ada orang yang nanya begituan ke kita, kita jadi rada curiga takut dijahatin. Walaupun kita ngak bisa generalisir semua orang seperti itu, kita masih dengan mudahnya nemuin orang yang bertegur sapa sekaligus bercanda ria di lingkungan sekitar. Termasuk lingkungan tempat tinggal saya sekarang.

Karena rumah saya jauh dari tempat kerja (3 jam perjalanan darat), jadi ngontraklah pilihannya. Lingkungan saya termasuk sepi. Walaupun terkadang ada dua keluarga ngobrolin hal apapun sampe tengah malem. Saya pernah ngobrol dari jam 8 sampe jam 12 malem. Ngobrolinnya beragam, tradisi nikah masing-masing suku adat Indonesia (Betawi, Batak, Jawa, Makassar, Minang, dll). Dari situ aja saya udah dapet informasi kalau mau nikahin cewe Batak itu harus siap modal gede. Makassar pun begitu.

Saya termasuk orang yang ga betah kalau diam diri dirumah sambal mainin hape atau laptop. Walaupun pekerjaan saya selalu bergelut di depan laptop, kalau ada perlu baru saya buka laptop dirumah jika tidak ya ngak saya buka. Banyak temen-temen saya yang selalu terkapar radiasi eletronik itu, ngeri ih cepet keriput mukanya hihihi. Menurut saya meskipun jaman dikelilingi teknologi canggih, jangan sampai teknologi menguasai kita.

Yang lebih mirisnya lagi kalau kita udah hidup ngak saling peduli satu sama lain (gue gue, lo lo). Tetangga rumah jatuh sakit atau ada masalah kita ngak tau, taunya ketika udah dalam masa krisis. Sekali lagi, saya bersyukur dilahirkan era-era 90an, ketika hape belum ada. Bisa ngerasain maen taplak gunung, benteng dan petak umpat. Bukan maen tekan dada (skip challenge) yang sempat tren yang hanya memperbodoh anak-anak muda jaman sekarang.

Well, generasi kini sudah berubah. Kita ga bisa menghakimi lingkungan seenaknya, kita perlu bareng-bareng wujudin lingkungan sekitar yang saling peduli, saling bertegur sapa, saling menyayangi (*ehh). Memasyarakatkan masyarakat sepertinya perlu, apalagi masyarakat yang lagi sakit model beginian.

 

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s